Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) menggelar kongres ke-12, Jumat (13/9/2019) di Auditorium LPP Yogyakarta. Selain mengagendakan pemilihan pengurus baru periode 2019-2022, IKAGI juga menyoroti beberapa isu salah satunya rencana pemerintah menyatukan Gula Kristal Rafinasi (GKR) dan Gula Kristal Putih (GKP) yang dinilai akan mematikan pabrik gula tebu nasional.

Direktur Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang juga Ketua IKAGI 2016-2019, Didik Prasetyo mengungkap adanya wacana penyatuan pasar gula nasional tersebut membawa konsekuensi pada penghasil gula tebu Indonesia. Menurut dia, turunnya harga gula karena penyatuan tersebut cukup mengkhawatirkan terutama bagi pabrik gula tebu tanah air.

 

“Isu mengenai penyatuan gula rafinasi dan gula konsumsi ini perlu disikapi pabrik gula berbasis tebu karena dampaknya bisa menurunkan harga. Dengan SPT 51 ribu per kuintal harga pokok bisa Rp 9.800 kalau raw sugar bisa Rp 7.500. Kalau disatukan pasti orang mencari lebih murah. Misalnya saja dijual Rp 8.000 saja untuk raw sugar untung tapi kami di gula tebu buntung,” ungkapnya pada wartawan di sela kongres.

Tak hanya pabrik saja, imbas penyatuan menurut Didik juga sampai pada petani tebu yang bakal semakin merugi. Ia pun berharap para pengusaha pabrik gula tebu melakukan penyampaian aspirasi pada pemerintah terkait wacana penyatuan.

“Di sini seharusnya pemerintah turun tangan, petani tebu diminta berpindah ke komoditi lain atau tetap di tebu, ya itu terserah pemerintah. Apakah pemerintah konsern pada petani tebu atau tidak. Isu GKR dan GKP jika dilaksanakan ini maka itu (pabrik gulung tikar) bisa terjadi. Petani dan pabrik gula berbasis tebu akan terdampak,” ungkapnya lagi.

Dalam kongres tersebut juga dibahas penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) produk gula tanah air yang maksimum 200 yang rentan rembesan GKR seperti yang selama ini terjadi. IKAGI pun meminta pemerintah menjelaskan lebih detail neraca kebutuhan gula nasional secara lebih detail dan rinci.

“Percuma kalau neracanya tidak jelas, sangat mungkin rembes gula rafinasi karena warnannya yang hampir mirip jika diturunkan menjadi 200. Masyarakat tidak tahu pokoknya gula kristal putih saja, namun sangat berdampak pada pabrik gula tebu dan petani tebu kita,” pungkas dia.

 

 

 

 

Source

0 comentário(s)