Sejumlah ekonom mulai menyoroti beberapa indikator pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga semester I 2019. Hal ini dikarenakan beberapa hal mulai menunjukkan perlambatan. Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia (EconAct) Ronny P Sasmita, salah satunya. Menurutnya, ada lima hal yang bisa menjadi lampu kuning bagi pemerintah.

Pertama, stagnasi tingkat konsumsi rumah tangga. Berdasarkan data dari BPS, ekonomi Indonesia kuartal I 2019 hanya tumbuh 5,07 persen dibandingkan periode sama tahun lalu atau tumbuh negatif 0,52 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Salah satu penyebab ekonomi tumbuh tidak maksimal adalah melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga. "Pada kuartal I 2019, pertumbuhan konsumsi tercatat sebesar 5,01 persen secara tahunan. Meski lebih baik dibanding periode yang sama tahun lalu, angka tersebut sedikit melambat dari kuartal IV 2018 yang mencapai 5,08 persen," kata Ronny kepada Liputan6.com, Minggu (21/7/2019).

Sebagai kontributor terbesar, kata Ronny, konsumsi rumah tangga menjadi salah satu acuan untuk mengukur ekonomi secara keseluruhan. Tren pertumbuhan konsumsi selalu sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi. Saat konsumsi melambat, hampir dipastikan akan berefek pada agregat pertumbuhan ekonomi.

Sebut sana misalnya data PDB Triwulan IV-2017, kontribusi konsumsi sektor rumah tangga dalam perhitungan PDB masih dominan, yaitu 56,13 persen terhadap PDB. Namun kontribusi tersebut menurun dari Triwulan IV-2016 (56,56 persen). Penurunan terjadi akibat imbas dari konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh sebesar 4,97 persen (yoy) atau menurun dibanding Triwulan IV-2016 (4,99 persen).

Kedua adalah pelemahan kapasitas ekspor nasional akibat pertumbuhan ekonomi global yang melambat. Berdasarkan data BPS, selama periode Januari-Juni 2019, ekspor Indonesia tercatat US$80,32 miliar atau turun 8,57 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD 87,88 miliar.

Penurunan ekspor memberikan gambaran lesunya sektor-sektor terkait, terutama sektor komoditas yang merupakan penopang ekspor terbesar Indonesia.

Investasi Melambat

Ketiga adalah perlambatan investasi. Pada kuartal I lalu, dipaparkan Ronny, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat investasi sebesar Rp195,1 triliun atau hanya tumbuh 5,3 persen. Padahal, di periode yang sama tahun lalu, pertumbuhannya bisa mencapai 11,8 persen secara tahunan. Perlambatan investasi juga terlihat dari data pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Pada kuartal I lalu, PMTB hanya tumbuh 5,03 persen, melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 7,94 persen.

Keempat, yang tak kalah mengkhawatirkan adalah dari sisi penerimaan negara. Di sektor pajak, pada semester I 2019, realisasinya tercatat Rp603,34 triliun atau 38,24 persen dari target APBN 2019. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, realisasi tersebut hanya tumbuh 3,7 persen.

Pemasukan dari Pajak Penghasilan (PPh), penolong terbesar setoran pajak, hanya mampu tumbuh 4,71 persen menjadi Rp376,33 triliun. Bahkan, setoran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) merosot 2,66 persen menjadi Rp212,32 triliun.

Jika dilihat secara sektoral, industri pengolahan, kontributor terbesar penerimaan pajak, setorannya tahun ini tercatat Rp160,62 triliun atau turun 2,6 persen dibandingkan tahun lalu. Pun penurunan juga terjadi pada penerimaan pajak di sektor pertambangan sebesar 14 persen menjadi Rp33,43 triliun.

Padahal, di periode yang sama tahun lalu, setoran pajak sektor pertambangan melesat 80,3 persen. Apalagi, lesunya harga komoditas juga berimbas pada raupan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Sepanjang Januari- Juni 2019, realisasi PNBP tercatat Rp209,08 triliun atau hanya tumbuh 18,24 persen secara tahunan. 

Transaksi Berjalan

Kelima, ada ancaman yang juga datang dari sisi internal, yakni dari sisi transaksi berjalan. Belum lama ini, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia bahkan memperkirakan bahwa defisit transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) pada kuartal II/2019 akan memburuk dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. 

"Perkiraan tersebut sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia, yang secara umum memprediksi bahwa kinerja neraca pembayaran Indonesia kuartal II/2019 tetap terjaga sehingga menopang stabilitas eksternal Indonesia," ungkap Ronny.

Menurut BI, perkembangan tersebut ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya. Namun demikian, BI mengingatkan bahwa defisit transaksi berjalan diprakirakan akan melebar dipengaruhi oleh kinerja ekspor barang dan jasa yang menurun.

"Selain itu, faktor lain yang ikut mempengaruhi adalah perilaku musiman terkait dengan peningkatan kebutuhan repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri," pungkas dia.

 

 

 

Source

0 comentário(s)