Ekspor China kembali tumbuh secara tidak terduga pada Mei 2019 meskipun tarif impor Amerika Serikat yang lebih tinggi telah diberlakukan. Pada saat yang sama, pelemahan permintaan domestik menggerus impor dalam penurunan terbesar selama tiga tahun terakhir yang memberikan sinyal kepada Beijing untuk meningkatkan upaya stimulus.

Meski demikian, data ini nampaknya tidak mampu menghapus kekhawatiran pasar terhadap perang dagang antara AS-China yang berkepanjangan dan berpotensi mendorong ekonomi global ke arah resesi. Data bea cukai China menunjukkan bahwa eskpor mengalami pertumbuhan 1,1% secara tahunan pada Mei, berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memproyeksikan penurunan terkendali.

"Kami memperkirakan pertumbuhan ekspor akan tetap positif pada Juni, besar kemungkinan didukung oleh pemesanan front-loading oleh pembeli dari AS. Namun, kemungkinan akan terjadi pelemahan pada kuartal ketiga akibat dampak dari pemberlakuan tarif yang lebih tinggi," ujar ekonom Nomura pada sebuah catatan, seperti dikutip melalui Reuters, Senin (10/6).

Pemerintah China kemungkinan akan meningkatkan upaya stimulus untuk menstabilisasi kondisi di pasar keuangan serta pertumbuhan ekonomi. Para ekonom di Nomura juga menambahkan bahwa distorsi bisnis terkait dengan pemotongan pajak pertambahan nilai (PPN) pada bulan April juga mungkin telah mereda dan membantu peningkatan data ekspor.

Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan pengiriman Mei dari eksportir terbesar dunia tersebut akan turun 3,8% dari tahun sebelumnya, setelah kontraksi sebesar 2,7% pada bulan April. Meskipun China tidak terlalu tergantung pada ekspor seperti di masa lalu, kegiatan ekspor mereka masih menyumbang hampir seperlima dari produk domestik bruto.

Adapun, impor China pada Mei jauh lebih lemah dari yang diharapkan dengan penurunan sebesar 8,5% yang merupakan pelemahan paling tajam sejak Juli 2016. Dengan ini, surplus perdagangan China sampai dengan Mei tercatat sebesar US$41,65 miliar dengan perkiraan surplus perdagangan secara keseluruhan mencapai US$20,5 miliar.

Analis memperkirakan impor akan turun 3,8%, membalikkan ekspansi 4% pada bulan April, yang diduga oleh beberapa orang terjadi berkat pengurangan PPN. Menyoroti permintaan yang lesu, impor tembaga tercatat turun. Logam merah yang banyak digunakan dalam konstruksi, barang-barang listrik dan manufaktur dianggap sebagai penentu arah untuk kesehatan ekonomi.

Untuk Januari-Mei, total ekspor China naik hanya 0,4% dari tahun sebelumnya, sementara impor turun 3,7%.

 

 

Source

0 comentário(s)