Teknologi digital yang makin berkembang juga berdampak pada bidang keuangan, salah satunya adalah dalam hal peminjaman uang. Jika sebelumnya, meminjam uang meski dalam jumlah kecil harus melalui berbagai prosedur yang ribet dan memerlukan waktu yang lama, teknologi digital membuat terobosan di mana nasabah kecil bisa meminjam dalam waktu cepat tanpa pakai ribet.

Nasabah bisa langsung meminjam melalui telepon genggam miliknya pada sejumlah perusahaan pinjaman online. Kemudahan tersebut membuat bisnis pinjaman online (fintech) berkembang pesat.

Salah satu pelaku usaha pinjaman online, Arief Ghani selaku Senior Manager of Business Development Modalku, mengatakan bisnis pinjaman online sangat menjanjikan dengan pasar yang besar.

Menurutnya, saat ini ada 63 juta pengusaha kecil atau UKM yang membutuhkan modal. Sebanyak 74 persen tidak mempunyai akses pada permodalan.

"Ini yang menjadi pasar atau captive market bagi Modalku,” kata dia dalam sebuah acara diskusi bertajuk Perlindungan Konsumen Fintech, di Kawasan Cawang, Jakarta, Selasa (29/10)

Dia menjelaskan, ada kesenjangan dalam permodalan di mana bank meminta persyaratan aset sebagai jaminan bagi usaha kecil yang akan meminjam, sementara mereka tidak mempunyai modal.

"Padahal, UKM sangat membutuhkan modal dalam waktu cepat, sedangkan bank membutuhkan waktu 1-3 bulan untuk menyetujui atau tidak menyetujui kredit. Peer to Peer Lending menjadi solusi bagi mereka yang membutuhkan modal cepat dan tidak mempunyai aset," tutupnya.

Namun, bisnis ini pun dikatakannya memiliki tantangan. Setidaknya ada tiga tantangan pada bisnis ini yaitu risiko kredit, operating expenditure (Opex), dan sosialisasi. 

Masalah lainnya adalah maraknya perusahaan ilegal yang kemudian menimbulkan banyak problema di masyarakat.

Satuan Tugas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menutup 1.773 fintech peer to peer lending atau pinjaman online ilegal. Penutupan dilakukan sejak tahun 2018 hingga Oktober 2019.

 

 

Source

0 commento(i)