Sebuah perusahaan atau brand bisa saja tiba-tiba memiliki citra negatif di masyarakat karena berbagai hal. Misalnya, karena serangan kampanye hitam menggunakan hoaks yang dilakukan oleh pesaing bisnis.

Atau penyebab lainnya seperti, perlakuan buruk karyawan perusahaan kepada pelanggan, malpraktik, cacat produksi pada produk yang telah terlanjur dibeli oleh konsumen, dan lain sebagainya juga bisa merusak citra positif yang telah dibangun brand selama bertahun-tahun.

Lalu, apabila hal itu terjadi, apa yang harus dilakukan oleh para marketers untuk membangun kembali citra positif brand yang sempat rusak.

Salah satu cara yang efektif membangun kembali citra positif brand adalah dengan melakukan kampanye native advertisingNative Ads, konten iklan berbayar yang berbentuk natural dan menyerupai konten-konten pada umumnya, memang memiliki beberapa keunggulan. Salah satunya, lebih susah diblokir oleh fitur atau aplikasi ads-blocker, sehingga native ads lebih mudah “menjumpai” target audiensnya.

Bagaimana para marketers bisa menggunakan native ads untuk membangun kembali citra positif sebuah brand yang telah rusak?

Kenali dengan baik penyebab rusaknya citra positif

Dalam menyelesaikan sebuah masalah secara umum, langkah pertama adalah mengetahui dengan tepat apa yang menjadi penyebab masalah itu terjadi. Ibarat seorang dokter, apabila ia salah melakukan diagnosa dan hipotesa, maka resep obat yang diberikan pun akan salah.

Agar bisa mengetahui dengan tepat penyebab rusaknya citra brandmarketers perlu melakukan investigasi baik di lingkungan dalam perusahaan maupun lingkungan luar perusahaan seperti pelanggan, supplier, masyarakat umum, para jurnalis media massa, dan lain sebagainya.

Melakukan social media listening dan monitoring akan membantu marketers untuk bisa mendeteksi secara dini “bau busuk” yang diam-diam sedang viral di masyarakat umum tentang brand yang diwakilinya dan merusak citra positif brand tersebut.

Ciptakan konten yang tepat

Setelah penyebab rusaknya citra positif brand ditemukan, langkah berikutnya adalah menciptakan konten yang tepat sebagai bahan kampanye native ads untuk membangun kembali citra positif tersebut.

Sebagai analogi, dalam ilmu perang militer, sebuah propaganda yang dilakukan oleh salah satu pihak lewat pidato, media massa, surat pribadi antar jenderal pimpinan perang kedua belah pihak, dan lain sebagainya bisa menciptakan perang psikologis yang pada akhirnya dengan mudah menjatuhkan mental pihak lawan dan seringkali diikuti dengan mundurnya pihak lawan dari medan perang karena ketakutan.

Kampanye native ads bisa diibaratkan sebagai propaganda dalam perang militer. Medan perangnya adalah hati dan pikiran para konsumen dan masyarakat umum. Dalam konteks ini, pihak lawannya adalah citra negatif yang terlanjur dimiliki sebuah brand. Kemenangan di medan perang adalah citra brand di mata konsumen dan masyarakat umum yang kembali positif.

Sebagai contoh, apabila penyebab rusaknya citra positif brand adalah kampanye hitam dari pesaing bisnis yang menggunakan hoaks, maka konten yang perlu dibuat adalah membuktikan hoaks yang dilakukan pesaing.

Pembuktian bisa dilakukan dengan memaparkan data, fakta, informasi, pendapat dan kesaksian dari para pihak yang dianggap netral, dan lain sebagainya melalui konten yang dijadikan bahan kampanye native ads.

Contoh lain, apabila kesalahan manajemen atau karyawan perusahaan yang menjadi penyebab rusaknya citra positif brand, maka konten bisa menyajikan informasi tentang rencana-rencana dan langkah-langkah ke depan dari perusahaan untuk memperbaiki kesalahannya, disertai ucapan permintaan maaf dari manajemen yang mewakili perusahaan.

Gunakan pendapat pakar

Apabila memungkinkan, para pakar yang berhubungan antara bidang ilmunya dengan sektor industri pemilik brand, pendapat dan kesaksiannya bisa digunakan untuk isi konten kampanye native ads. Tentu saja, pakar yang dipilih juga harus dikenal oleh konsumen dan masyarakat umum,

Contohnya, sebuah produsen makanan dalam kemasan sedang diserang hoaks yang mengatakan bahwa produk-produknya mengandung bahan baku berbahaya bagi kesehatan, padahal hal itu tidak benar. Perusahaan ini bisa menggunakan pendapat dan kesaksian dari pakar nutrisi, atau teknologi pengolahan pangan, atau dokter, dan lain sebagainya yang menjelaskan secara ilmiah namun mudah dimengerti konsumen dan masyarakat umum bahwa produk-produk tersebut tidak mengandung bahan baku yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Lakukan kampanye native ads dengan tepat

Setelah konten-konten bahan untuk kampanye native ads selesai diproduksi, langkah selanjutnya adalah memulai kampanye tersebut. Pemilihan jenis media digital yang digunakan untuk melakukan kampanye harus tepat, yaitu media digital yang digunakan oleh mayoritas konsumen atau target pasarnya.

Semakin lama jangka waktu kampanye dilakukan, dan semakin sering frekuensi konten tersebut dilihat individu yang sama maka semakin baik. Sebab, secara psikologis memang perlu beberapa kali melihat, atau membaca, atau mendengarkan konten yang sama agar seorang manusia bisa mengingatnya dengan baik di alam sadar maupun tak sadarnya.

Lakukan apa yang disampaikan

Apabila faktor penyebab rusaknya citra positif brand adalah kesalahan dari manajemen atau karyawan perusahaan, dan kemudian manajemen perusahaan itu mengkampanyekan langkah-langkah yang akan dilakukan sebagai perbaikan untuk membangun kembali citra positif brand, maka segala sesuatu yang disampaikan perlu benar-benar dilakukan. Walk the talk will always works. 

Manajemen perusahaan yang tidak benar-benar melakukan segala sesuatu yang telah disampaikannya melalui kampanye native ads, nantinya bukan malah membangun kembali citra positif brand, sebaliknya malah membuat citra brand tersebut semakin buruk di hati dan pikiran konsumen maupun masyarakat umum.

 

 

 

 

Source

Artículos relacionados

0 comentario(s)