Semakin ketatnya likuiditas bank turut disebabkan oleh faktor persaingan yang kurang sehat dan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dalam setahun terakhir. Ekonom Institute for Develoment of Economics and Finance Bhima Yudhistira Adhinegara menuturkan likuiditas bank semakin ketat antara lain karena faktor persaingan yang kurang sehat akibat jumlah bank yang terlalu banyak  serta efek naiknya bunga acuan Bank Indonesia (BI) sejak 2018.

Saat ini, ada 115 bank yang beroperasi di Indonesia. Adapun BI 7 Days (Reverse) Repo Rate (BI-7DRRR) naik 175 basis poin (bps) menjadi 6 persen dalam setahun terakhir.

Di sisi lain, pemerintah juga agresif menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) dengan bunga tinggi.“Untuk jaga likuiditas tidak ada cara lain selain menaikkan special rate,” katanya kepada Bisnis, Selasa (7/5).

Tetapi, Bhima menilai perang bunga sudah tidak wajar karena bank yang relatif lebih kecil menjadi korban. Hal ini tampak dari Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) I dan II yang sudah di atas 100 persen.

 

Bank kecil tidak memiliki fleksibilitas sumber pendanaan, sedangkan bank bermodal besar masih relatif mampu bertahan karena punya opsi pendanaan dari emisi surat berharga, baik Medium Term Notes (MTN), obligasi, maupun rights issue.

“Regulator sebaiknya segera menurunkan bunga acuan 25-50 bps agar perang bunga bisa ditekan,” ujarnya.Jumlah bank yang terlalu banyak dan belum efisien juga harus dikurangi dengan insentif merger akuisisi.

“Saya juga sarankan pemerintah tahan agresivitas penerbitan surat utang berdenominasi rupiah agar tidak terjadi perebutan dana di pasar,” tambah Bhima.

 

 

Source

Artículos relacionados

0 comentario(s)