Kehabisan ide ataupun stuck, sering melanda siapa saja, tak terkecuali para petinggi atau founder sebuah perusahaan terkemuka. Itulah sebabnya mengapa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, karena saat kita buntu, kita bisa minta tolong orang lain agar bersama-sama menciptakan ide baru untuk menjalankan sebuah campaign untuk startup atau bisnis kamu.

Bayu Ramadhan, Vice President of Brand & Marketing Moka, berbagi kisahnya saat ia harus menjalankan beragam campaign untuk Moka sehari-hari. Simak kisahnya di bawah, ya!

Bagaimana cara mendapatkan ide?

Kuncinya adalah hire the right people.

Saya bukan orang paling pinter di tim saya. Misalnya PR (Public Relation) dan digital marketing, saya nggak mungkin lebih jago dari head saya di dua bidang itu. Jadi saya harus selalu make sure ada orang-orang yang jauh lebih pinter dari saya di areanya masing-masing tapi punya goals yang sama.

Saya sampai sekarang masih terlibat proses rekrutmen bahkan sampe ke level junior atau freelance atau intern. Karena saya mau make sure orang yang kerja di tim saya, bukan kerja karena brand Moka keren, atau cuma digaji, tapi secara personal punya deep interest dengan UMKM.

Saya pengen orang-orang yang kerja di Moka, sambil liat pas kita bikin event atau community, ini merchant-merchant yang terbantu dengan peoduk yang kita pasarkan

Jadi dengan dikerubungi oleh orang yang sangat kredibel dan kaya di bidangnya masing-masing, akan memperkaya kita saat mau bikin campaign. Kadang nggak mesti campaign diomongin sama tim digital marketing, karena takutnya campaign nya repetitive.

Jadi kadang saya cross, tanyanya ke tim PR atau tim activation. Menurut kalian gimana nih, karena kadang ada insight baru dan menarik yang sebelumnya nggak keliatan di tim yang biasanya ngerjain. Bahkan intern bisa ngasih ide yang bagus. Jadi semua dibangun oleh people dan open culture. Semua orang bisa berkontribusi tanpa perlu dikotak-kotakkan sama role nya mereka.

Butuh berapa lama ngomongin campaign?

Tergantung industrinya. Kalo B2B itu nggak bisa cepet. Kalo B2C kayak unicorn di indonesia dan mereka punya content yang engaging dan setiap orang menggunakan produk unicorn itu setiap hari. Kayak ride hailing atau ecommerce minimal banget seminggu sekali orang buka aplikasinya. Bahkan travel agency juga mungkin nggak travel setiap saat tapi ngecek ada tiket promo nggak. Makanya B2C itu promonya bisa ganti tiap 6 bulan sekali atau harbolnas, bulan puasa campaign nya sendiri.

Kalo B2B nggak bisa gitu. Karena market nggak setiap hari baca atau buka konten yang kita tembak. Jadi apa yang bisa kita lakukan adalah punya satu payung campaign yang bisa berjalan dalam jangka panjang. 

Di Moka sendiri punya campaign namanya Percaya Moka. Itu hasil FGD pertama kita tahun lalu. Gak mungkin jangka waktunya cuma 3 bulan aja karena merchant baca misalnya pas lagi mau buka cabang baru aja atau pas lagi ada yang nanya dia pake POS apa. Jadi Percaya Moka ini kita bikin jangka waktunya 3 tahun tapi ada beberapa turunannya.

Untuk menjalankan sebuah campaign butuh berapa tim?

Tergantung kebutuhan. Moka ada 25.000 merchant yang tersebar di 200 kota dan kabupaten. Awalnya Moka sendiri fokusnya POS. Tapi satu tahun terakhir kita ada Moka Pay, Moka Capital, Moka Fresh, Moka Connect dan macem-macem.

Makin banyak produk harus bagi2 kepala karena banyak yang diurus. Karena produk itu awalnya awareness, terus engagement baru conversion ke sales. Awareness ini beda-beda. Moka Post udah bukan awareness karena udah banyak yang tau. Kalo Moka Pay belom, jadi kita harus ulang dari awareness. Moka Capital mungkin udah banyak yang tau jadi lebih ke engage.

Jadi saya butuhnya sekitar 45 orang karena produk yang di handle banyak dan cakupannya luas 200 kota.

Cara menganalisis campaign yang berhasil?

Setiap campaign harus punya target yang jelas terutama dalam bentuk angka. Pas saya masuk, Moka hampir 4 tahun berdiri. Saat itu saya lihat, KPI nya masih dalam bentuk kualitatif pada saat akhir kuarter, achievement rate nggak terukur secara akurat.

Karena kualitatif itu cakupannya terlalu luas, buat orang ini udah selesai tapi kita nggak tau pas jadi dokumen, bener atau nggak ya nggak keliatan. Jadi target harus di convert ke kuantitatif, apapun itu. Misal tim art atau creative, mereka bikin sesuatu tentang seni, itu bisa dibikin jadi angka. Misalnya tiap kuartal harus bikin 3 video tapi per video harus dapet engagement sekian. Itu yang harus di set dari awal. Jadi satu-satu kita ukur berdasarkan targetnya supaya tau ini dilanjutkan atau nggak, dikasih lebih atau nggak, ini yang nggak berhasil berarti nggak usah lagi karena nggak works.

 

 

 

 

Source

Related posts

0 comment(s)